Amankah Sabun Daun Sirih untuk Membersihkan Area Kewanitaan

Kamis, 17 Mei 2018 | 03:52 WIB Cahaya Resik
Amankah Sabun Daun Sirih untuk Membersihkan Area Kewanitaan

Daun sirih dikenal luas sebagai pembersih area kewanitaan. Bahkan kini sabun daun sirih banyak beredar di pasaran.

Saat ini ada banyak cairan pembersih area kewanitaan yang menggunakan daun sirih sebagai salah satu bahan utamanya. Masalahnya, amankah pembersih ini untuk digunakan?

Sebenarnya, tidak hanya di Indonesia, manfaat kesehatan daun sirih memang sudah dikenal sejak 400 tahun sebelum masehi.

Aliran Ayurveda di India pun telah menuliskan berbagai manfaat daun sirih bagi kesehatan. Daun sirih diketahui dapat membantu kesembuhan beberapa penyakit. Sementara itu, di Cina daun sirih diketahui dapat bermanfaat untuk detoksifikasi dan memiliki kemampuan antioksidan.

Berangkat dari pengetahuan tersebut, telah banyak penelitian yang dilakukan untuk membuktikan segala manfaat daun sirih. Berbagai studi menemukan bahwa daun sirih memiliki kandungan zat aktif yang mampu berfungsi sebagai antiseptik, anti-infeksi, antijamur, antiradang, dan antioksidan.

Membersihkan Area Kewanitaan

Pada keadaan tertentu, seperti lembap, banyak berkeringat, di masa menstruasi maupun keputihan, ada baiknya Anda memperhatikan kebersihan vagina. Anda bisa membersihkan area kewanitaan dengan bantuan pembersih.

Dalam hal ini, Anda boleh menggunakan air atau godokan daun sirih asli untuk membersihkan area kewanitaan. Karena fungsi daun sirih yang telah disebutkan di atas, maka sabun daun sirih memang dapat membantu melawan infeksi dan radang yang terjadi ketika Anda sedang mengalami keputihan.

Gunakan Secukupnya

Perlu diingat, penggunaan pembersih daun sirih tetap harus disikapi dengan bijak. Pembersih dari godokan daun sirih asli, bisa digunakan ketika Anda sedang mengalami masalah di area kewanitaan, karena berdasarkan pemaparan di atas, daun sirih terbukti ampuh mengatasi masalah organ intim wanita.

 

Sumber :

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3892533/

https://link.springer.com/article/10.1007/s11655-013-1334-1

Dr. Karin Wiradarma

ARTIKEL TERKAIT